Berkat Kemitraan, UKM Tembus Pasar Ritel

03/12/2017

Berkat Kemitraan, UKM Tembus Pasar Ritel

<img src="/indonesia/BH/img/11818-1.jpg">Tonggak penting dicapai pada 6 Oktober 2017. Salah satu UKM binaan PTPM yaitu Sari Raos, melakukan pengiriman perdana produk keripik pisang tanduk Mamali ke Makassar sebanyak 3 ton. Camilan sehat ...

Keripik pisang Mamali Sari Raos kini bisa dijumpai di supermarket besar di Makassar.

Pengiriman perdana keripik pisang tanduk Mamali Sari Raos
Pengiriman perdana keripik pisang tanduk Mamali Sari Raos ditandai dengan seremoni pengguntingan pita oleh Bupati Luwu Timur sekaligus melepas armada pengangkut 3 ton keripik pisang ke Makassar.

Kerap kita dengar berita yang menyebut pemerintah kerap kewalahan menghadapi musim panen sejumlah produk pertanian. Yang terjadi tiap kali musim panen, harga komoditas anjlok di tingkat petani. Namun di luar musim panen, pemerintah seringkali harus melakukan impor demi memenuhi kebutuhan konsumsi nasional.

Untuk menstabilkan harga, memenuhi kebutuhan konsumsi setiap saat, serta memberikan nilai tambah pada komoditas, hilirisasi produk pertanian dan perkebunan unggulan penting dilakukan. Pembangunan gudang penyimpanan, infrastruktur yang baik untuk memperlancar distribusi, dan pengembangan industri pengolahan menjadi solusi yang menguntungkan bagi semua pihak.

Hilirisasi sedang diupayakan oleh Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, PT Vale melalui Program Terpadu Pengembangan Masyarakat (PTPM), serta Asosiasi UKM Mutiara Timur Cabang Luwu Timur. Hilirisasi juga perlu diimbangi dengan ketersediaan pasar yang merupakan factor kunci untuk menghidupkan usaha kecil menengah (UKM). Membuka akses pasar tentu akan lebih mudah ketika pelaku usaha bermitra dengan berbagai pihak. Kemitraan tiga pihak antara Pemda, PT Vale, dan Asoasiasi memberi kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperluas jaringan pasar.

Tonggak penting dicapai pada 6 Oktober 2017. Salah satu UKM binaan PTPM yaitu Sari Raos, melakukan pengiriman perdana produk keripik pisang tanduk Mamali ke Makassar sebanyak 3 ton. Camilan sehat itu akan bisa dijumpai di gerai ritel besar - seperti Indomaret, Alfamart, Lotte, dan Carrefour - dalam waktu dekat.

Bupati Luwu Timur Thoriq Husler hadir dalam seremoni gunting pita yang menandai pengiriman perdana produk Mamali Sari Raos. “Saya bangga atas hasil kerja keras kita semua. Semoga produk ini bisa jadi kebanggaan Luwu Timur dan menjadi momentum pertumbuhan UKM di daerah kita,” kata Husler. Seremoni yang berlangsung di UKM Mart Angkona tersebut juga dihadiri Wakil Bupati Lutim Irwan Bahri Syam, Anggota DPRD Lutim, manajemen PT Vale, Camat Angkona, Direktur BUMD, pengelola BUMDes, kepala desa, dan para pelaku UKM se-Luwu Timur. Husler meminta agar BUMD dan BUMDes bisa menangkap peluang sebagai mitra industri UKM.

Konsistensi berbisnis

Keripik pisang tanduk Mamali - Sari Raos
Camilan berbahan dasar pisang tanduk diproyeksikan menjadi produk UKM unggulan Luwu Timur.

Dalam peluncuran tersebut, pemilik UKM Sari Raos Bertin Butuallo mengungkapkan terima kasihnya kepada PT Vale, Asosiasi UKM Mutiara Timur, dan Pemkab Lutim yang telah membukakan jalan bagi usahanya hingga menembus ritel modern di kota besar. Usaha keripik pisang berbahan baku pisang tanduk mulai dirintis Bertin sejak 2006. Sebelum mendapat pendampingan dari Asosiasi, produknya hanya dipasarkan di Sorowako dan sekitarnya dan menyasar toko-toko kecil.

“Setelah lebih dari 10 tahun saya merintis usaha ini, akhirnya produk Mamali Sari Raos bisa juga masuk jaringan supermarket besar. Saya berterima kasih sekali. Juga kepada Pemkab yang telah mengikutkan produk keripik pisang ini ke pameran-pameran,” kata Bertin. Saat ini Sari Raos mempekerjakan 12 orang. Mereka berlatar belakang ibu rumah tangga, janda, hingga pemuda putus sekolah.

Senior Coordinator PTPM Livelihood La Ode Muh. Ichman mengatakan bahwa 10 tahun lalu, Bertin mendatangi PT Vale untuk membahas pengolahan bahan mentah demi mendapatkan nilai tambah. PT Vale merespons dengan bantuan modal usaha melalui program Comdev saat itu. “Banyak pelaku UKM yang memasukkan proposal ke PT Vale untuk mendapat bantuan. Setelah itu, lebih banyak yang gulung tikar. Tapi Ibu Bertin ini konsisten. Dia terus berproduksi dan berinovasi sehingga hasilnya bisa kita lihat sekarang, Sari Raos semakin melebarkan sayap,” kata Ichman.

Mamali, dalam Bahasa Toraja, artinya kerinduan. Nama itu dipilih dengan harapan siapapun yang menyantap keripik pisang tanduk Mamali akan merasakan suasana kampung halaman serta rindu untuk kembali mengonsumsi keripik pisang yang renyah dan kaya rasa itu.

Penguatan petani hingga pengembangan industri

Ketua Asosiasi UKM Mutiara Timur Hasidah S. Lipoeng mengatakan bahwa komoditas pisang tanduk paling potensial di Luwu Timur. Dalam tiga bulan pertama, Mamali Sari Raos menargetkan pengiriman produk sebanyak 3 ton per bulan. Di bulan keempat, target naik menjadi 10 ton dan pengiriman keripik pisang tanduk dilakukan hingga ke Kalimantan dan Papua. Kenaikan volume produksi akan diimbangi dengan penyiapan lahan untuk perkebunan pisang tanduk.

Untuk memenuhi volume produksi keripik pisang sebesar 3 ton, diperlukan bahan baku pisang tanduk sebanyak 6 ton per bulan. Ketika produksi mencapai 10 ton, maka bahan baku mutlak tersedia sebanyak 20 ton. Saat ini, bahan baku Sari Raos dipasok oleh 38 petani yang menjual hasil panennya langsung ke pabrik keripik pisang di Desa Tampinna, Angkona. Harga yang dipatok oleh Sari Raos lebih tinggi dibanding harga jual ke pasar. Di pabrik, satu tandan pisang dihargai Rp20.000 sementara di pasar hanya Rp12.000.

Asosiasi UKM Mutiara Timur menyiapkan lahan sebesar 240 hektar untuk perkebunan pisang tanduk di daerah Maliwowo dan Berau untuk mencukupi kebutuhan pasokan 20 ton pisang tanduk empat bulan mendatang. Rencana jangka menengah adalah menaikkan produksi menjadi 50 ton pada pertengahan 2018. “Kalau sudah 50 ton harus sudah ada aturan di desa dan kecamatan yang mengharuskan tanam pisang di pekarangan rumah. Kalau mau memajukan industri rumahan yang menjadi ikon daerah memang diperlukan kerja bersama. Mulai dari produsen hasil olahan, petani, pemasok, pemerintah, asosiasi, swasta, sampai masyarakat,” kata Hasidah.[]



Artikel ini dapat juga diakses pada Tabloid Verbeek edisi 33 pada link berikut.

Baca juga


Berkat Kemitraan, UKM Tembus Pasar Ritel