Buangin, Desa SRI Organik ke Sembilan di Wilayah Pemberdayaan PT Vale

08/12/2017

Buangin, Desa SRI Organik ke Sembilan di Wilayah Pemberdayaan PT Vale

<img src="/indonesia/BH/img/11818-5.jpg">Sejak pertama kali “nyawah” mereka melakukannya dengan mengandalkan pupuk kimia. Namun pasokan pupuk tersebut mulai surut dan sulit dicari hampir setahun terakhir. Alhasil, hampir setahun terakhir ...

Terinspirasi kesuksesan Desa Libukan Mandiri yang lebih dulu membudidayakan SRI organik.

Tanam perdana Sri Organik Desa Buangin
Meskipun perkenalan petani Desa Buangin dengan pola SRI Organik masih terbilang baru, desa ini memegang rekor penanaman lahan padi organik terluas dibandingkan desa-desa lain di Luwu Timur. Tanam perdana dilakukan pada Agustus 2017 di lahan seluas 29,1 hektar.

Langit Desa Buangin, Mahalona Raya, Kecamatan Towuti tampak cerah hari itu (awal Agustus 2017). Tampaknya alam pun menyambut gembira keputusan petani desa tersebut untuk memanfaatkan alam dengan cara yang lebih terpuji. Ya, hari itu mereka melakukan tanam perdana padi dengan metode SRI Organik untuk pertama kalinya. “Mulai hari ini kami akan bertani dengan cara organik. Tidak lagi menggunakan pupuk kimia,” ujar Aep Saepuddin, salah satu petani.

Petani Desa Buangin sudah menanam padi sejak 12 tahun lalu ketika mereka pertama kali menetap di desa tersebut. Mereka adalah para keluarga petani yang berasal dari beberapa daerah di Jawa Barat yang kemudian mengikuti program transmigrasi ke Kabupaten Luwu Timur. Sejak pertama kali “nyawah” mereka melakukannya dengan mengandalkan pupuk kimia. Namun pasokan pupuk tersebut mulai surut dan sulit dicari hampir setahun terakhir. Alhasil, hampir setahun terakhir tersebut, mereka tidak punya pendapatan ataupun sumber makanan (beras) karena tidak bisa bercocok tanam.

Namun mereka sadar, situasi tersebut tidak bisa mereka biarkan begitu saja. Akhirnya warga petani pun mencari alternatif. Mereka penasaran dengan pertanian SRI organik yang berada di desa sebelah, yakni Desa Libukan Mandiri yang telah membudidayakan SRI sejak dua tahun lalu. “Kami lihat mereka sudah lama memulai dan berhasil. Panennya juga terus meningkat. Kami jadi terinspirasi pengen nyoba,” tambah Saepuddin mengisahkan awalnya.

Cerita punya cerita, akhirnya keinginan mereka untuk mencoba SRI itu pun difasilitasi PT Vale. Dalam hal ini dibantu fasilitator SRI organik Yayasan Aliksa Organik. “Pada Januari 2017, petani mengikuti persiapan budidaya dan pelatihan,” ujar Kariman, fasilitator SRI dari Aliksa. Ada 51 petani yang ikut pelatihan. Mereka berasal dari dua kelompok tani yakni Cahaya Organik dan Sumber Mukti. Selama dua bulan (Januari-Februari 2017), petani belajar mengobservasi lahan hingga pembuatan kompos dan MOL.

Menurut Kariman, tidak sulit mengajak petani Desa Buangin belajar SRI. Pasalnya, mereka sudah punya contoh dan inspirasi di desa sebelah. Cerita-cerita sukses dan cara budidaya SRI – meski masih berupa wawasan umum – telah petani Buangin dengar. Hal itu pula yang membuat jadwal tanam perdana mereka tidak keluar dari prediksi, yakni Agustus 2017. Acara tanam perdana tersebut dilakukan dengan acara kecil-kecilan. Sebagai rasa syukur, warga petani mengundang perwakilan PT Vale, penyuluh pertanian dan Dinas Pertanian Luwu Timur ketika itu.

Areal terluas

Tanam perdana SRI organik Desa Buangin ini berada di lahan seluas 29,1 hektar. “Sebagai desa yang melakukan tanam perdana, Desa Buangin yang pegang rekor lahan terluas. Ini luar biasa. Namun justru hal ini yang menjadi tantangan mereka juga besar. Karena harus bisa memanennya di areal yang paling luas dibanding desa lainnya,” ujar Manager Social Development Program PT Vale Busman Dahlan Sirat ketika acara. Dalam kalender kegiatan ditargetkan petani akan menuai hasil pertamanya pada minggu ke-4 Desember 2017. Pada tanam perdana ini, petani juga telah memproduksi 203 ton kompos dan 3.480 liter MOL.

Catatan hingga Agustus 2017 terdapat 13 area di 8 kecamatan di Kabupaten Luwu Timur atau desa ke-9 area pemberdayaan PT Vale yang telah membudidayakan padi dengan metode SRI organik. Dengan total luasan mencapai 82,4 hektar dan melibatkan 190 petani (lihat tabel). Introduksi pertanian SRI Organik pertama kali dilakukan PT Vale pada Februari 2015 melalui Program Pertanian Ramah Sehat Lingkungan Berkelanjutan (PRSLB) yang merupakan bagian dari program sosial PT Vale atau yang lebih dikenal dengan Program Terpadu Pemberdayaan Masyarakat (PTPM).[]



Artikel ini dapat juga diakses pada Tabloid Verbeek edisi 33 pada link berikut.

Baca juga


Buangin, Desa SRI Organik ke Sembilan di Wilayah Pemberdayaan PT Vale