Menyiapkan Herbalis Ikuti Uji Kompetensi

Tentang Vale

05/10/2017

Menyiapkan Herbalis Ikuti Uji Kompetensi

<img src="/indonesia/BH/img/17105-1.jpg"/>Seperti biasa, pelatihan herbal selalu dihiasi dengan aneka olahan tanaman obat yang dipamerkan pembuatnya. Berbagai sediaan, mulai dari simplisia, bubuk, minuman segar, hingga olahan berupa ...

Pelatihan Herbal Lanjutan di Rumah Kemitraan Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Model-Kecamatan Nuha, 12 Mei 2017
Pegiat herbal binaan PT Vale kini menyiapkan diri untuk menjadi penyehat tradisional pratama sekaligus bersiap memasarkan produk olahan secara lebih luas dan berstandar.

Seperti biasa, pelatihan herbal selalu dihiasi dengan aneka olahan tanaman obat yang dipamerkan pembuatnya. Berbagai sediaan, mulai dari simplisia, bubuk, minuman segar, hingga olahan berupa kosmetika diletakkan di meja display. Peserta pelatihan bisa membeli aneka olahan yang sudah dikemas cantik itu. Di pelatihan herbal lanjutan, sediaan semakin lengkap. Mereka tidak lagi saling bertanya apa khasiat masing-masing tanaman obat karena seluruh pegiat herbal sudah punya pemahaman mendalam. Beberapa melontarkan celetukan, “Banyak sekali bawang Dayak sekarang. Dulu setengah mati carinya, sekarang setiap kali ada yang perlu tinggal ambil saja.”

Tidak heran jika mereka sudah makin mahir dalam budidaya dan pengolahan tanaman obat. Karena saat ini pemanfaatan dan pengembangan tanaman obat oleh pegiat herbal di empat kecamatan pemberdayaan PT Vale telah memasuki tahun kedua. Di tahun pertama, mereka mempelajari teknik budidaya, mengenal khasiat tanaman obat, dan mendalami cara meramu obat-obatan tradisional yang sudah terbukti keampuhannya untuk mengatasi berbagai keluhan kesehatan, baik untuk diri sendiri maupun keluarga dekat. Di tahun kedua ini, para pegiat herbal memasuki fase yang lebih serius. Mereka mulai melirik obat herbal sebagai bisnis dan menyiapkan diri untuk menempuh ujian sertifikasi penyehat tradisional pratama.

Sebagai bekal mengikuti uji kompetensi, pegiat herbal dari Kelurahan Magani, Desa Nikkel, Sorowako, Matano, Tabarano, Lioka, serta staf Puskesmas Nuha, Wawondula, Timampu, Bantilang, Wasuponda, dan Lampia, mendapatkan pelatihan intensif. Seperti yang dilakukan dalam Pelatihan Herbal Lanjutan di Rumah Kemitraan Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Model-Kecamatan Nuha, 12 Mei 2017. Pelatihan intensif yang diikuti oleh 35 peserta itu dilakukan demi mencetak pengobat herbal yang andal dan terpercaya.

Kegiatan pemanfaatan obat merupakan salah satu program pengembangan Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang digagas PT Vale dan Dinas Kesehatan Luwu Timur dalam kerangka Program Terpadu Pengembangan Masyarakat (PTPM). UKBM merupakan pilar kesehatan paling dasar sesuai Perpres No. 72/2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional (SKN). PT Vale dan Dinas Kesehatan Luwu Timur sepakat mengembangkan tanaman herbal mengingat potensi lahan dan melimpahnya tanaman obat tradisional yang tumbuh di wilayah ini.

50 herbalis ikut ujian kompetensi

“Tahun 2017, ditargetkan 50 pegiat herbal dari Kecamatan Nuha, Towuti, Wasuponda, dan Malili bisa mengikuti uji kompetensi yang dilakukan langsung oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP),” kata dr. Rianti Maharani, Master Herbal Medik dari Yayasan Aliksa Organik SRI, yang menjadi pemateri pelatihan lanjutan yang membahas peracikan dan perizinan herbal. Selain teknik meracik tanaman obat, dr. Rianti juga memberi materi seputar terapi totok agar keterampilan yang dimiliki para herbalis menjadi kian lengkap.

Peserta membagi pengalaman mereka seputar khasiat tanaman obat, sekaligus tahapan kegiatan yang tengah mereka jalankan bersama kelompok masing-masing. “Saya pernah tidak bisa berdiri. Kena sakit pinggang dan kaki. Langsung saya minta orang untuk rebus meniran, rumput mutiara, dan sidaguri. Tidak sampai 30 menit, saya langsung bisa berdiri,” kata Syahraeni, istri Kepala Desa Nikkel. Syahraeni juga menambahkan bahwa di kebun herbal Desa Nikkel sudah tersedia 138 macam tanaman herbal yang diperjual-belikan dalam bentuk simplisia maupun bibit tanaman.

H. Nasir, pegiat herbal dari Kelurahan Magani, juga membagi cerita. “Saya ini punya kanker paru-paru. Kena kanan dan kiri. Sembari saya jalani pengobatan dokter, saya minum campuran kunyit putih, temulawak, daun iler (miana, red), sambiloto. Baru-baru saya cek lagi paru-paru, kata dokter tinggal flek saja,” kata H. Nasir. Pegiat herbal di Kelurahan Magani memasarkan obat tradisional dalam bentuk minuman segar, bubuk, dan dalam bentuk ramuan instan. Saat ini mereka sedang menunggu keluarnya izin usaha agar produk herbal Magani bisa dipasarkan ke toko-toko.

Agar keterampilan para herbalis semakin lengkap, mereka juga mempelajari terapi totok, olah napas, dan membuat minyak pijat. Pemateri adalah Iis Sumiati Kini, konsultan Rumah Totok di seluruh Indonesia dan konsultan di Griya Sehat Holistik Palembang. “Lengkap sekali ini. Ada lagi ilmu baru. Saya paling semangat saat diajari buat minyak pijat. Semoga nanti ibu-ibu PKK di desa saya bisa bikin minyak dalam jumlah banyak dan bisa dijual,” kata Syahraeni, herbalis dan Ketua PKK Desa Nikkel.

Izin usaha

Di kesempatan yang sama, pelatihan teknik meracik juga dibarengi dengan pelatihan kewirausahaan. PT Vale menghadirkan pemateri dari Asosiasi UKM Mutiara Timur Sulawesi Selatan yang menekankan pentingnya para pelaku usaha mikro untuk mengantongi izin. “Izin mutlak ada, minimal P-IRT (Pangan Industri Rumah Tangga, red) saja dulu. Karena izin tersebut akan memberi jaminan atau kepercayaan bagi calon konsumen terhadap produk yang ditawarkan,” kata Ketua Umum Asosiasi UKM Mutiara Timur Sulsel Hasidah S. Lipoeng. Izin P-IRT dapat diajukan ke Dinas Kesehatan Kabupaten, prosesnya hanya perlu 2 minggu, dan tanpa dipungut biaya.

Asosiasi menargetkan, akhir Mei 2017 semua produk herbal di Luwu Timur sudah memiliki izin yang artinya cakupan pasar yang lebih luas sudah mulai digarap. Namun hal itu memunculkan kekhawatiran bagi sebagian pegiat herbal. “Produk-produk herbal kami ini hanya sedikit yang bisa masuk ke minimarket atau supermarket. Terbatas jenisnya, paling hanya yang bubuk atau instan saja. Kalau produk minuman hanya bisa tahan satu minggu, itupun harus masuk kulkas. Padahal minuman itu yang paling laku. Bagaimana kita mengatasi kendala ini?” tanya Trisnawati dari Kelompok Wanita Tani (KWT) Mandiri, Desa Tabarano.

Menanggapi hal itu, Hasidah menjelaskan bahwa Asosiasi UKM Mutiara Timur akan melakukan pembinaan bagi kelompok. “Kami akan lakukan assessment. Dari situ kelihatan kelompok mana yang perlu pembinaan seperti apa,” kata Hasidah. Dia menambahkan bahwa ritel punya standar produk yang terukur sehingga pembinaan kewirausahaan bagi kelompok-kelompok herbal difokuskan untuk memenuhi standar ritel tersebut.[]

Baca juga


Menyiapkan Herbalis Ikuti Uji Kompetensi