Monev PMDM Kecamatan Towuti - Melengkapi Infrastruktur Perdesaan

Tentang Vale

15/08/2017

Monev PMDM Kecamatan Towuti - Melengkapi Infrastruktur Perdesaan

<img src="/indonesia/BH/img/170815-2.jpg"/>Jejak PMDM di Kecamatan Towuti makin jelas. Posyandu dan PAUD dibangun hingga ke pelosok. Bahkan ada desa yang kini memiliki fasilitas pembibitan tanaman perkebunan. Perjalanan darat menuju kawasan Mahalona ...

Fasilitas pembibitan Desa Tole
Sebagai alternatif perkebunan lada, masyarakat Desa Tole membudidayakan kopi dan cengkeh. Melalui PMDM, mereka mewujudkan pembangunan fasilitas pembibitan yang kelak diharap bisa menopang perekonomian warga.

Jejak PMDM di Kecamatan Towuti makin jelas. Posyandu dan PAUD dibangun hingga ke pelosok. Bahkan ada desa yang kini memiliki fasilitas pembibitan tanaman perkebunan.

Perjalanan darat menuju kawasan Mahalona, Kecamatan Towuti, jauh dari mudah. Kendaraan roda dua dan roda empat harus mengitari perbukitan, naik-turun jalan berlumpur dengan kubangan-kubangan besar. Namun tinggal di daerah terpencil tidak menjadi halangan bagi warga di kawasan tersebut untuk berpikir maju.

Di Desa Tole, misalnya. Sejak booming merica lima tahun terakhir ini, masyarakat hampir sepenuhnya menggantungkan hidup pada komoditas tersebut. Hasilnya memang terlihat. Banyak rumah besar berdiri di lahan yang semula hanya ditempati rumah kayu amat sederhana. Namun lama-kelamaan masyarakat sadar bahwa suatu ketika harga lada putih akan mencapai titik jenuh.

Masyarakat Tole sadar bahwa besarnya suplai merica yang melebihi permintaan pasar akan menggerus harga. Warga pun berdiskusi. Mereka lantas mencari komoditas lain yang bisa dikembangkan di Desa Tole.

Mayoritas warga berasal dari Toraja dan Enrekang, mereka sudah terbiasa dengan budidaya kopi. Ketika pulang dari kampung halaman, mereka membawa bibit kopi yang kemudian ditanam di pekarangan rumah untuk konsumsi sendiri. Maka terbersit gagasan untuk mengembangkan komoditas kopi sebagai alternatif pencaharian di samping berkebun merica.

Sebagai pelengkap, warga Tole menambahkan tanaman cengkeh untuk dikembang-biakkan. Dua jenis tanaman tersebut cocok dengan kontur dan cuaca di Desa Tole.

Langkah pertama mereka adalah membuat fasilitas pembibitan. “Waktu diskusi, kami tertarik sekali ingin membuat tempat seperti nursery-nya PT Vale. Jadi bibit kopi dan cengkeh kami kembangkan di tempat itu, lalu kalau sudah siap tanam bisa dimanfaatkan oleh petani,” kata Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD) Tole Ramli Rauf.

Dana Program Mitra Desa Mandiri (PMDM) 2016 sektor ekonomi, Rp120 juta, sepenuhnya diserap untuk membangun fasilitas pembibitan kopi dan cengkeh. Dana itu digunakan untuk penataan lahan, pembangunan pondok-pondok pembibitan, dan pengadaan bibit.

Ketika Tim monitoring dan evaluasi (Monev) mengunjungi Desa Tole, Maret 2017, sudah ada 20.000 bibit cengkeh dan 23.000 bibit kopi dalam fasilitas seluas 1 hektar tersebut. Jika dilihat dari luas lahan, bibit yang bisa ditampung mencapai sekitar 300.000.

Secara teknis, kelengkapan, maupun pengelolaan, pelaku PMDM dan masyarakat menyadari bahwa masih perlu dilakukan banyak pembenahan. Nur Kahfi, Ketua FLP Kecamatan Towuti yang banyak berkecimpung di bidang kehutanan menyampaikan sejumlah koreksi, antara lain perlu dibuat lorong lebar 0,5 meter di tiap baris bibit untuk keperluan perawatan tanaman. Selain itu, instalasi penyiraman dan pembibitan tanaman hutan sebagai pagar hidup juga harus dipikirkan.

Dari sisi pengelolaan, dalam waktu dekat masyarakat desa akan membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Saat ini, warga baru punya tim kecil untuk memelihara tanaman dan bibit masih dibagikan secara cuma- cuma kepada petani. Ke depan, keberlanjutan fasilitas pembibitan akan lebih ditekankan. Pelatihan petani untuk menguatkan wawasan seputar budidaya kopi dan cengkeh juga menjadi agenda berikutnya.

Membangun Fisik, Menguatkan Kelompok Tani

TK Dharmawanita, Desa Kalosi
TK Dharmawanita, Desa Kalosi, mendapat dana PMDM sektor pendidikan selama dua tahun anggaran, senilai Rp155 juta. Di siklus 2016, dana PMDM di TK tersebut dimanfaatkan untuk pengadaan mobiler, alat permainan edukatif, pembangunan fasilitas air bersih, dan penataan halaman.

Masih di kawasan Mahalona, tim Monev mengunjungi dua bangunan Posyandu di Desa Libukan Mandiri. Satu bangunan telah beroperasi dan satu lagi baru selesai dibangun 50%.

Di Desa Mahalona, PMDM telah membangun tiga unit Posyandu dalam tiga tahun anggaran. Posyandu ketiga, yang diberi nama Posyandu Dahlia, masih dalam proses pengerjaan namun segala kelengkapan, mulai dari mobiler dan Alkes, juga sudah tersedia berkat dukungan PMDM. Di siklus 2016, Posyandu di berbagai desa sudah dibangun dengan desain standar dan kualitas material benar-benar diperhatikan.

Di Desa Lioka, Tim Monev mengapresiasi kinerja pelaku PMDM yang berhasil mewujudkan pembangunan TK An-Nur. Dengan dana Rp80 juta, bangunan bisa berdiri dengan kualitas sangat baik dan sudah dilengkapi mobiler. Sementara di beberapa desa, seperti Desa Baruga, nominal yang sama belum bisa menyelesaikan pembangunan fisik PAUD.

Di Libukan Mandiri, dana PMDM sektor ekonomi senilai Rp40 juta dimanfaatkan untuk pengadaan pupuk bagi 50 petani. Namun petani tidak mendapatkan pupuk secara gratis. Mereka bahkan membeli pupuk dengan harga lebih tinggi Rp10.000 dibanding harga pasaran. Hal itu tidak dipersoalkan karena keuntungan masuk ke kas kelompok tani.

“Petani tidak keberatan membeli pupuk sedikit lebih mahal. Bagi mereka, yang penting ada pupuk karena kemarin itu sedang langka,” kata Fasilitator PMDM-Kecamatan Towuti Faisal Halim. Mekanisme “dana bergulir” itu rencananya akan dipertahankan oleh petani di Libukan Mandiri.

Hal berbeda muncul di Desa Buangin. Di desa itu, petani enggan menerima bantuan pupuk di PMDM siklus berikutnya. Alasannya, bantuan tak bisa segera direalisasikan karena kelangkaan pupuk sehingga petani harus menunggu lama. Hal itu memicu minat mereka untuk mendalami pertanian ramah lingkungan yang bebas pupuk dan pestisida kimia.[]

Baca juga


Monev PMDM Kecamatan Towuti - Melengkapi Infrastruktur Perdesaan