Monev PMDM Kecamatan Wasuponda - Gagasan dan Kekompakan yang Memajukan Desa

Tentang Vale

15/08/2017

Monev PMDM Kecamatan Wasuponda - Gagasan dan Kekompakan yang Memajukan Desa

<img src="/indonesia/BH/img/170815-3.jpg"/>Inovasi dilakukan untuk meningkatkan ekonomi desa, mulai dari mencari bahan bakar alternatif hingga membangun perahu rakyat. Banyak di antara warga Desa Wasuponda yang memelihara hewan ternak di pekarangan ...

Inovasi dilakukan untuk meningkatkan ekonomi desa, mulai dari mencari bahan bakar alternatif hingga membangun perahu rakyat.

Instalasi biogas di Desa Wasuponda
Instalasi biogas di Desa Wasuponda punya banyak manfaat: mengatasi masalah lingkungan, menghentikan perambahan hutan untuk mencari kayu bakar, dan menghasilkan kompos sebagai produk sampingan.

Banyak di antara warga Desa Wasuponda yang memelihara hewan ternak di pekarangan rumah. Kandang ternak ditempatkan di sebelah rumah pemilik dan otomatis berdekatan pula dengan rumah-rumah tetangga. Kotoran ternak yang mengeluarkan bau tak sedap ini sudah lama menjadi masalah warga. Warga memutuskan untuk menyerap Rp40 juta dari jumlah Rp75 juta dana Program Mitra Desa Mandiri (PMDM) sektor kesehatan untuk mengatasi permasalahan kesehatan lingkungan yang timbul akibat aktivitas peternakan tadi.

Syarifuddin, Ketua Komite Desa Wasuponda, membagi pengalamannya ketika melakukan studi banding di Bali pada akhir 2015. Studi banding itu merupakan hadiah yang dia terima setelah mendapatkan PMDM Award 2015 untuk kategori Komite Desa terbaik. “Di Bali, banyak sekali orang pelihara babi, tapi tidak ada saya cium bau-baunya sama sekali. Pekarangan rumah tetap kelihatan bersih. Ternyata mereka manfaatkan kotoran babi menjadi biogas,” kata Syarifuddin.

Ide itulah yang kemudian diadopsi di Desa Wasuponda. “Daripada sekadar membuat septic tank untuk menampung kotoran, lebih baik kita olah menjadi bahan bakar ramah lingkungan,” lanjut Syarifuddin. Ketika Tim monitoring dan evaluasi (Monev) mengunjungi Desa Wasuponda, akhir Februari 2017, satu unit instalasi biogas percontohan sudah terpasang di pekarangan rumah Martha Barapadang.

Ketika biogas sudah diproduksi nantinya, warga bisa mendapatkan bahan bakar alternatif untuk keperluan memasak dan mendapatkan kompos sebagai hasil sampingan biogas. Warga diharap tidak lagi merambah hutan untuk mencari kayu bakar.

Kerja Sama yang Solid

Apresiasi akan kerja sama yang solid antara pelaku kegiatan PMDM, Pemerintah Desa, dan masyarakat di Desa Tabarano patut dilayangkan. Kekompakan itu telah mencatatkan sejumlah pencapaian.

Pertama, Desa Tabarano berhasil mengelola kebun percontohan tanaman obat dengan fasilitas yang terbilang lengkap. Dana PMDM sebesar Rp33.500.000 digunakan untuk pembangunan awal Rumah Herbal, sementara Dana Desa berkontribusi dalam penataan tanam dan pembangunan fasilitas pembibitan. “Rumah Herbal nantinya akan digunakan sebagai rumah produksi obat tradisional dan tempat konsultasi,” kata Trisnawati, bendahara Kelompok Wanita Tani (KWT) Mandiri yang mengelola kebun herbal di Dusun Lowu Timur tersebut.

Pencapaian kedua adalah alokasi bantuan yang tepat sasaran. Lima unit jamban keluarga dibangun bagi keluarga miskin, bantuan perlengkapan yang diberikan kepada pelaku UMKM meubel dan pandai besi bisa meningkatkan volume produksi hingga 100%, serta renovasi atap TK Pembina yang membebaskan bangunan itu dari genangan air di ruang kelas saat turun hujan deras. Di setiap lokasi penerima manfaat di Desa Tabarano, terpasang papan program yang jelas sehingga memudahkan proses audit di kemudian hari.

Pencapaian terakhir, dan mungkin yang paling penting, adalah tercapainya transparansi anggaran. Setelah menyelesaikan tahap II PMDM siklus 2016, Komite Desa masih memiliki saldo sebesar Rp23 juta. Sisa saldo itu dicatat dengan rapi oleh Bendahara Komite Desa dan dilaporkan kepada Kepala Desa. Selanjutnya, musyawarah bersama masyarakat akan kembali dilakukan untuk menentukan peruntukan sisa anggaran PMDM.

Keberhasilan program juga tampak di Desa Parumpanai. Bantuan yang tepat sasaran bisa dilihat oleh Tim Monev. Sebanyak 14 pedagang pasar kini memiliki gerobak sendiri, lengkap dengan payungnya. “Dulu saya jualan hanya digelar saja di bawah, pakai alas plastik.

Sekarang ada gerobak payung begini tidak kena hujan -panas lagi. Tidak juga berebut tempat dengan pedagang lain. Siapa duluan baku dapat tempat di bawah, dia yang menjual di situ. Yang tidak dapat, ya, terpaksa cari tempat lain,” kata Samsiah, seorang pedagang sayuran di Pasar Parumpanai yang mendapat penghasilan bersih Rp60.000 satu kali seminggu di hari pasar.

Perahu motor di Desa Parumpanai
Kegiatan pembangunan perahu motor di Desa Parumpanai telah berhasil meningkatkan volume produksi para pengrajin atap sekaligus memangkas waktu tembuh yang berdampak pada efektivitas proses produksi atap rumbia.

Bantuan yang meningkatkan volume produksi juga tampak di Desa Parumpanai. Tujuh orang pengrajin atap rumbia dulu harus naik motor atau jalan kaki sejauh 3 kilometer sambil memikul daun rumbia. Sekali jalan, seorang pengrajin hanya sanggup memikul dua ikat daun rumbia. Dana PMDM sektor ekonomi kemudian dimanfaatkan untuk membangun sebuah perahu motor yang bisa memotong jarak tempuh pengrajin atap untuk mencapai lokasi pepohonan sagu melalui Sungai Bengko. Sekali menyusuri sungai menggunakan perahu, mereka bisa membawa 5 ikat daun rumbia.

Pembelajaran

Selain pencapaian, catatan pembelajaran juga ditemukan Tim Monev di desa-desa Kecamatan Wasuponda. Di Desa Kawata, saat Tim Monev mendatangi 12 unit jamban yang dibangun dari dana PMDM, sebagian di antaranya dinilai salah sasaran.

“Kami menilai sebagian masyarakat yang diberi bantuan jamban itu sebenarnya kalangan yang mampu. Seharusnya pelaku program dan Pemerintah Desa banyak berkoordinasi dan lebih jeli lagi melihat kategori penerima manfaat sehingga bantuan diberikan kepada mereka yang benar-benar tidak mampu,” kata Kepala Puskesmas Wasuponda Yetriani Bosa yang merupakan anggota Forum Lintas Pelaku (FLP) Kecamatan Wasuponda.

Tidak dilakukannya sosialisasi desain jamban yang sesuai dengan standar kesehatan juga menjadi catatan. Di hampir seluruh lokasi jamban yang dkunjungi, septic tank warga hanya punya satu ruang. Padahal jika mengacu pada standar, septik tank seharusnya mempunyai 2 ruang: pengolahan dan peresapan air. Bahkan di satu lokasi di Desa Balambano, septic tank dibangun lebih tinggi dibanding WC. Selain itu, resapan juga seharusnya berjarak minimal 10 meter dari sumur.

Pembelajaran lain yang didapat Tim Monev adalah pengetatan aturan penerima manfaat PMDM sektor pendidikan. “Jangan berikan bantuan kepada PAUD yang belum memiliki izin operasional, kecuali memang dibangun PAUD baru. Kalau PAUD yang sudah berjalan lebih dari 4 tahun dan tidak punya izin, itu namanya pengelola sekolah tidak peduli,” kata Saidah Salleng, anggota FLP Wasuponda yang juga Ketua Ikatan Guru TK Indonesia (IGTKI) Kabupaten Luwu Timur.

Dua TK di Desa Kawata yang mendapat bantuan PMDM, belum ada yang memiliki izin operasional. Padahal izin tersebut merupakan pintu masuk segala bantuan dari Pemerintah serta syarat keluarnya Nomor Induk Siswa (NIS) yang akan dibawa hingga Perguruan Tinggi.[]

Baca juga


Monev PMDM Kecamatan Wasuponda - Gagasan dan Kekompakan yang Memajukan Desa