Pelatihan Herbal Dasar untuk Warga Lioka

Tentang Vale

18/08/2017

Pelatihan Herbal Dasar untuk Warga Lioka

<img src="/indonesia/BH/img/170815-5.jpg"/>Warga Lioka bercita-cita menjadikan desanya sebagai desa organik. Ketika pelatihan herbal dasar digelar untuk kali pertama, warga menyambut antusias. Geliat pertanian sehat ramah lingkungan begitu terasa di ...

Monitoring-evaluasi WC di Desa Puncak Indah
Selain mendapat pelatihan budidaya padi dengan pola SRI Organik, warga Desa Lioka, Kecamatan Towuti, juga memperoleh kesempatan untuk belajar teknik menanam dan mengolah tanaman obat.

Warga Lioka bercita-cita menjadikan desanya sebagai desa organik. Ketika pelatihan herbal dasar digelar untuk kali pertama, warga menyambut antusias.

Geliat pertanian sehat ramah lingkungan berkelanjutan begitu terasa di Desa Lioka, Kecamatan Towuti. Setelah 36 petani mengikuti Pembelajaran Ekologi Tanah (PET) dan teknik budidaya System of Rice Intensification (SRI) Organik pada 6-10 Februari 2017, mereka memperkaya wawasan dan keterampilan melalui pelatihan dasar budidaya dan pengolahan herbal, 15 Februari 2017.

Pelatihan yang diadakan di Gedung Bantea itu diikuti oleh 33 peserta dari Tim Penggerak PKK, anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Srikandi, kader Posyandu, staf Puskesmas, dan warga Desa Lioka.

Semangat Pemerintah Desa dan warga Lioka untuk menjadikan desa mereka sebagai desa organik terlihat jelas. “Belum selesai pelatihan SRI kemarin, warga sudah minta pelatihan herbal. Kita tidak mau kalah dengan desa-desa lain yang sudah mulai memproduksi obat tradisional. Lioka juga mau karena potensi tanaman obat di sini melimpah. Warga juga sudah terbiasa dengan Toga (tanaman obat keluarga, red) karena sejak penilaian Desa Siaga 2016, kita sudah biasakan tanam Toga di pekarangan,” kata Zachma Diana, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Lioka.

Menyusuri lorong-lorong di Desa Lioka, keasrian dan kebersihan lingkungan begitu diperhatikan. Bak-bak sampah tersedia di depan pagar rumah-rumah warga, pekarangan hijau ditumbuhi aneka bunga, sayur, dan tanaman obat. Tak heran jika Lioka mendapatkan Juara I Kategori Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam Lomba Desa Siaga Tingkat Provinsi 2016.

“Warga kami sudah terbiasa menanam sayuran dan tanaman obat. Tanaman seperti kumis kucing, rumput meniran, tapak dara, itu sudah ada di pekarangan warga,” kata Rinawati Poendey, ketua kader Posyandu Lioka. Dengan modal pengalaman tersebut, diskusi sepanjang pelatihan berjalan menarik.

Budidaya Toga bertujuan menyehatkan masyarakat secara mandiri, melestarikan budaya pengobatan tradisional warisan leluhur, serta sebagai upaya pelestarian tanaman obat dari kelangkaan. Pelatihan dan pendampingan bagi pegiat tanaman obat menjadi bagian dari Program Terpadu Pengembangan Masyarakat (PTPM) PT Vale.

Pengetahuan baru

Monitoring-evaluasi WC di Desa Puncak Indah
Hasil olahan tanaman obat dari Kecamatan Nuha dan daerah-daerah lain di Indonesia yang sudah mulai dipasarkan dan dirasakan khasiatnya untuk mengatasi berbagai keluhan kesehatan. Hasil olahan ini dipamerkan di pelatihan herbal dasar bagi masyarakat Desa Lioka.

Sama seperti pelatihan kewirausahaan obat tradisional di BP3K-Model Kecamatan Nuha, pelatihan bagi warga Lioka juga menghadirkan Erna Setiyawati sebagai pemateri. Pemilik Toko Herbal Daun Mas itu menjelaskan aspek-aspek dasar dalam pengolahan tanaman obat. Dari sekitar 10 jenis sediaan tanaman obat, misalnya serbuk, kapsul, sirup, teh, hingga parem dan lulur, simplisia atau sediaan kering merupakan salah satu yang paling mudah untuk dibuat, mudah dikemas, dan tahan lama.

Erna menyebutkan bahwa hahan baku tanaman obat sebagai sumber simplisia nabati dapat berupa tumbuhan liar yang tumbuh sendiri di hutan atau di tempat lain dan bisa juga tanaman budidaya yang sengaja di tanam dengan tujuan tertentu. Simplisia dari tanaman liar umumnya memiliki mutu yang tidak terstandar, sementara simplisia hasil olahan tanaman budidaya memiliki mutu yang lebih baik dan terstandar. Proses penyiapan simplisia berawal dari panen Toga, sortasi, cuci, tiris, rajang, pengeringan, pengemasan, dan penyimpanan.

Peserta pelatihan dasar mendapat banyak pengetahuan baru seputar obat tradisional. Mereka jadi paham bahwa dalam pembuatan simplisia, harus dipilih bagian tanaman yang berwarna cerah, telah tua atau masak sempurna dalam keadaan segar, buah tidak keriput, kulit batang tidak retak, daun tidak busuk, tidak rusak oleh serangan ulat atau hama dan penyakit tanaman lainnya, tidak berjamur atau berlumut, dan jangan memilih bagian yang telah berubah warna atau layu.

Mereka pun berkesempatan mencari jawaban atas persepsi yang selama ini muncul tentang herbal. “Saya sering dengar kalau obat herbal itu tidak bisa menyembuhkan, hanya bisa mengurangi rasa sakit. Apa itu benar?” tanya Emil Pranata, warga Desa Lioka yang mengikuti pelatihan. “Obat tradisional perlu waktu untuk memperbaiki kerusakan tubuh karena herbal bekerja secara holistik. Dan penting bagi kita untuk mendapat diagnosis atas penyakit. Kalau diagnosis benar, ramuannya tepat, dan kita minum herbal secara disiplin, maka akan sembuh,” jawab Erna. Diskusi berlangsung hangat. Banyak pertanyaan dilontarkan peserta, mulai dari efek samping obat tradisional, konsumsi jangka panjang, dan jenis-jenis Toga untuk mengobati keluhan kesehatan ringgan hingga penyakit berat.

Peserta pelatihan juga diberi pengetahuan singkat tentang beberapa jenis tanaman yang paling banyak digunakan untuk mengatasi masalah kesehatan. Seperti sambiloto yang berkhasiat mengobati influenza, demam tifoid, kencing manis, darah tinggi, asam urat, eksem, TB Paru, liver, kencing nanah, hingga kanker. Ada juga daun dewa yang dapat mengobati tumor, penyakit jantung, stroke, dan patah tulang. Atau alang-alang yang merupakan penghenti pendarahan, penurun tekanan darah tinggi, obat demam, dan mengatasi gangguan ginjal.

Di akhir sesi pelatihan, peserta mendapat contoh resep herbal. Sesi tersebut paling diminati. Peserta mendengarkan degan cermat dan mencatat resep herbal yang diberikan Erna. Misalnya untuk mengobati maag dan perut kembung, bisa merebus parutan kencur, bawang merah, kunyit, dan temulawak. Rebusan itu diminum tiga kali sehari. Sementara rebusan jahe, serai, kayu manis, lada hitam, dan gula merah, dapat dikonsumsi untuk menjaga kebugaran.[]

Baca juga


Pelatihan Herbal Dasar untuk Warga Lioka