Selangkah Lagi, Herbalis Lutim Raih Sertifikat Penyehat Tradisional

Tentang Vale

05/12/2017

Selangkah Lagi, Herbalis Lutim Raih Sertifikat Penyehat Tradisional

<img src="/indonesia/BH/img/11818-3.jpg">Dalam pembekalan uji kompetensi, peserta diberi wawasan seputar keahlian yang harus dimiliki seorang Hattra Pratama yang akan dites oleh penguji LSK. Hattra Ramuan Pratama atau bisa juga disebut asisten ...

Selain mengikuti uji kompetensi Penyehat Tradisional Pratama, pegiat herbal Luwu Timur juga punya kans menjadi pemijat refleksi bersertifikat.

Simulasi ujian praktik
Suasana simulasi ujian praktik pegiat herbal. Tata letak ruangan dibuat menyerupai saat ujian, dengan toples-toples berisi tanaman obat tanpa label dan berbagai perangkat pengecoh.

Empat meja disediakan, lengkap dengan toples-toples berisi sediaan kering tanaman obat, peralatan meramu, kertas-kertas untuk menuliskan resep, dan formulir yang harus diisi oleh klien. Namun semuanya dalam kondisi berantakan. Kemudian seorang Penyehat Tradisional (Hattra) Ramuan Pratama masuk ke dalam ruangan. Dia merapikan meja beserta isinya sebelum memanggil klien dan menjadi asisten bagi Hattra Madya.

Begitulah sekelumit gambaran simulasi uji kompetensi yang dipraktikkan para pegiat herbal dari Kecamatan Nuha dan Wasuponda yang digelar di Rumah Kemitraan BP3K Model-Kecamatan Nuha, 12-15 September 2017. Simulasi bertujuan menyiapkan mereka untuk mengikuti ujian yang sebenarnya. Di mana para penguji dari Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK) Pengobat Tradisional Ramuan akan menentukan siapa yang layak mendapatkan sertifikat Hattra Ramuan Tingkat Pratama. Selain Hattra Ramuan, pegiat herbal di Luwu Timur juga diproyeksikan mengikuti uji kompetensi pemijat refleksi.

Pembekalan uji kompetensi dilakukan setelah para pegiat herbal mengikuti rangkaian pelatihan dan pendampingan yang dimulai pada Maret 2016. “Dari sekian banyak warga yang mengikuti pelatihan, ada sekitar 40 orang yang konsisten. Mereka ikut sejak awal dan masih bertahan sampai sekarang. Peserta terseleksi dengan sendirinya. Dan mereka yang konsisten inilah yang akan kami ikutkan dalam uji kompetensi,” kata dr. Rianti Maharani, dokter herbal medik dari Yayasan Aliksa Organik SRI yang telah memberikan pelatihan seputar khasiat dan cara meramu tanaman obat tradisional kepada warga Nuha dan Wasuponda selama hampir dua tahun.

Pelatihan dan pendampingan untuk pegiat tanaman obat tradisional merupakan bagian dari Program Terpadu Pengembangan Masyarakat (PTPM) Kemitraan Strategis. Dalam mengembangkan upaya kesehatan berkesinambungan sekaligus meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, PT Vale bermitra dengan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur.

Asah komunikasi

Dalam pembekalan uji kompetensi, peserta diberi wawasan seputar keahlian yang harus dimiliki seorang Hattra Pratama yang akan dites oleh penguji LSK. Hattra Ramuan Pratama atau bisa juga disebut asisten penyehat memiliki sejumlah kompetensi yang harus dipenuhi, antara lain memahami ilmu pengobatan tradisional ramuan Indonesia; memahami ilmu higiene, sanitasi, dan K3; mampu memberikan pelayanan pengobatan tradisional sesuai Peraturan Kompetensi dan Kode Etik Profesi; menyiapkan bahan ramuan sesuai dengan instruksi Penyehat Madya atau Utama; dan melaksanakan komunikasi yang efektif dengan klien.

Beberapa poin, diakui oleh peserta pembekalan, cukup menantang. Misalnya saja, calon peserta uji kompetensi harus hafal nama latin dari tiap tanaman obat yang mereka ketahui. “Bisa keriting lidah kalau menghafal nama latin,” kata Mimi Rosmini, salah seorang pegiat herbal dari Kelurahan Magani, Kecamatan Nuha, yang antusias mengikuti uji kompetensi. “Tapi tidak apa-apa,” lanjut Mimi, “Saya tetap akan belajar dan Insya Allah bias lulus ujian. Sudah saya niatkan memang untuk jadi penyehat tradisional sekaligus punya usaha herbal kecil-kecilan.”

Ujian kompetensi meliputi teori dan praktik. Dalam ujian praktik, kemampuan berkomunikasi dengan klien menjadi poin penting penilaian. “Ini yang masih harus diasah oleh ibu-ibu di Nuha dan Wasuponda. Komunikasi dengan klien itu sangat penting karena mereka harus menjelaskan tata cara mengonsumsi obat tradisional, memberi kiat-kiat umum seputar menjaga kesehatan,” kata Erna Setiyawati Sucipto, praktisi obat tradisional ramuan dan herbalis di Griya Sehat Alami Daun Mas.

Dalam simulasi uji kompetensi, meja pertama digunakan untuk pendaftaran pasien, meja kedua untuk diagnosis keluhan kesehatan yang dilakukan Hattra Madya, meja ketika sebagai tempat meramu obat tradisional, dan meja terakhir digunakan untuk konsultasi. Di meja terakhir itulah Hattra Pratama menyerahkan racikan herbal sesuai resep, menjelaskan segala hal terkait tata cara konsumsi herbal, sekaligus menjawab pertanyaan yang muncul dari klien.

Para peserta pembekalan mengakui bahwa mereka masih gugup menghadapi uji kompetensi. Namun optimisme tetap dijaga. “Saya harus siap karena kita, kan, sudah dibekali banyak ilmu oleh Bu Dokter (dr. Rianti, red), Bu Erna, dan Teh Iis (Iis Sumiati Kini, konsultan Rumah Totok di seluruh Indonesia dan konsultan di Griya Sehat Holistik Palembang). Masih ada waktu untuk belajar sebelum ikut ujian. Dan saya akan belajar keras,” kata Alsri Kenda, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Mandiri, Desa Tabarano, Kecamatan Wasuponda.

Sertifikasi dan pengurusan izin

Warga Nuha dan Wasuponda berangkat dari keinginan untuk hidup lebih sehat secara alami. Mereka mulai dengan mengobati keluhan kesehatan ringan yang dirasakan diri sendiri dan anggota keluarga kecil. Seiring waktu, mereka melebarkan sayap dan mulai punya harapan yang lebih besar. Terutama setelah mendapat pelatihan kewirausahaan dan pelatihan terapi penyehatan.

“Kita gali minat dan potensi mereka dan kami akan bantu mereka meraih harapannya, apakah itu menjadi pengusaha jamu atau menjadi penyehat tradisional bersertifikat,” kata dr. Rianti. Dan dari 40 pegiat herbal, nyaris seluruhnya ingin menjalankan dua profesi tersebut.

Untuk menjadi pelaku usaha skala mikro-kecil-menengah, izin mutlak diperlukan. Minimal izin P-IRT (Pangan Industri Rumah Tangga). Dengan mengantongi izin, pelaku usaha akan mendapatkan kepercayaan dari konsumen terhadap produk yang ditawarkan. Izin P-IRT dapat diajukan ke Dinas Kesehatan Kabupaten, prosesnya hanya perlu 2 minggu, dan tanpa dipungut biaya.[]



Artikel ini dapat juga diakses pada Tabloid Verbeek edisi 33 pada link berikut.

Baca juga


Selangkah Lagi, Herbalis Lutim Raih Sertifikat Penyehat Tradisional