PKPM, Akselerasi Kemandirian Masyarakat

Program Pengembangan Sosial

PKPM, Akselerasi Kemandirian Masyarakat

Sepanjang lima dekade beroperasi, PT Vale membawa perubahan besar pada kondisi masyarakat setempat. Perubahan tersebut memberi dampak positif berupa kesempatan kerja dan pembangunan berbagai infrastruktur publik, seperti fasilitas kesehatan, pendidikan, transportasi, rekreasi, hingga infrastruktur yang menggerakkan ekonomi setempat. PT Vale juga melaksanakan berbagai program pengembangan masyarakat.

Memasuki tahun 2013, PT Vale mengubah pendekatan dalam melaksanakan program pengembangan masyarakat, melalui Program Terpadu Pengembangan Masyarakat (PTPM). Perencanaan dan pelaksanaan PTPM diselaraskan dengan rencana pembangunan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, bersifat jangka panjang, memiliki peta jalan lima tahunan, serta mengedepankan transparasi dan akuntabilitas.

Dari desa menuju kawasan perdesaan

Di 2018, transformasi dilakukan. Ketika desa-desa dalam satu kawasan bergabung dan mengembangkan potensi terbaiknya, niscaya pertumbuhan ekonomi yang berujung pada kemandirian masyarakat akan lebih cepat terwujud. Maka lahirlah Program Pengembangan Kawasan Perdesaan Mandiri (PKPM) sebagai bentuk inovasi melanjutkan program sebelumnya. Desa tidak lagi berjalan sendiri-sendiri melainkan saling terhubung dan bergabung, maju bersama dalam satu kawasan. PKPM merupakan program kemitraan antara masyarakat, Pemerintah Daerah, dan PT Vale dalam jangka waktu lima tahun (2018-2023).

PKPM bertujuan meningkatkan kapasitas produksi, daya saing, nilai tambah, dan kemandirian ekonomi masyarakat di wilayah terdampak operasi. PKPM memberikan dana stimulan bagi masyarakat untuk pengembangan kawasan dan produk unggulan desa/produk unggulan kawasan. Transformasi PMDM ke PKPM telah melewati proses konsultasi dan koordinasi dengan pemangku kepentingan terkait: Kementerian ESDM, Pemkab Luwu Timur, dan masyarakat yang tergabung dalam Forum Tiga Pilar.

Pelaksanaan PKPM selaras dengan berbagai regulasi, terutama terkait pelaksanaan program pengembangan masyarakat di lingkup perusahaan tambang. PKPM juga mengacu pada Peraturan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Permen Desa) No.5 Tahun 2016 Tentang Pengembangan Kawasan Perdesaan.

PT Vale juga telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama dengan Direktorat Jenderal Pembangunan Kawasan Perdesaan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT), Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Sulawesi Selatan, dan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur terkait pelaksanaan PKPM. Penandatanganan dokumen dilakukan Presiden Direktur PT Vale Nico Kanter, Sekjen Kementerian Desa PDTT Anwar Sanusi, Gubernur Sulawesi Selatan H.M. Nurdin Abdullah, dan Bupati Luwu Timur M. Thorig Husler pada November 2018.

Lingkup kerja sama meliputi pengembangan dan pemberdayaan masyarakat dan kawasan perdesaan, implementasi Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) dan PKPM, pembinaan dan penguatan kapasitas kelembagaan pemerintahan di tingkat desa dan kelurahan, pembinaan dan penguatan kapasitas Badan Kerjasama Antar Desa, serta penguatan Badan Usaha Milik Desa.

Tahapan PKPM 

Lingkup program

Lingkup implementasi PPM-PKPM meliputi upaya pengembangan kawasan perdesaan yang dilakukan melalui penataan ruang dan menumbuhkan pusat-pusat layanan yang mengarah pada terbentuknya desa-desa berbasis potensi unggulan yang terbagi dalam 10 kawasan pengembangan yang terdapat di 4 kecamatan (Nuha, Towuti, Wasuponda dan Malili) di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

1. Kawasan Wisata

Bertujuan melestarikan kekayaan alam, adat istiadat, cagar budaya, seni budaya, serta memberi dampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. PKPM mendukung pengembangan kawasan pariwisata yang peduli terhadap keberlangsungan lingkungan, ekonomi, sosial dan budaya, serta menempatkan masyarakat sebagai perencana, pengelola, dan pemilik.

2. Integrated Agricultural Regions (Agropolitan)

Mempercepat peningkatan produktivitas wilayah dan ekonomi masyarakat pada sentra-sentra produksi pertanian terpadu (perkebunan, peternakan, dan hal-hal yang relevan) yang didukung oleh sarana dan prasarana fisik. PKPM—bersinergi dengan program pengembangan ekonomi lainnya—memfasilitasi upaya penyediaan alternatif mata pencaharian, lapangan pekerjaan, pengembangan unit ekonomi produktif berbasis pertanian berkelanjutan.

Lokasi: Kecamatan Towuti (Desa Mahalona 980 jiwa, Desa Libukan Mandiri 1.252 jiwa, Desa Kalosi 1.308 jiwa, Desa Tole 1.046 jiwa, Desa Buangin 1.655 jiwa).

3. Kawasan Pengembangan Perkebunan Lada

Meningkatkan produksi dan pemasaran lada yang didukung oleh sarana dan prasarana fisik, termasuk sistem informasi teknologi dan informasi pasar yang dapat diandalkan. Diikuti peningkatan produktivitas wilayah dan ekonomi masyarakat pada sentra-sentra produksi perkebunan lada dan hal-hal yang relevan. PKPM—bersinergi dengan program pengembangan ekonomi lainnya—mengembangkan perkebunan lada yang ramah lingkungan.

Lokasi: Kecamatan Towuti (Desa Tokalimbo 1.011 jiwa, Desa Loeha 1.169 jiwa, Desa Ranteangin 1.967 jiwa, Desa Bantilang 2.003 jiwa, Desa Masiku 823 jiwa).

4. Kawasan Perdagangan dan Industri Penunjang

PKPM memfasilitasi peningkatan produktivitas wilayah dan ekonomi masyarakat untuk menopang industri pada sentra-sentra produksi komoditas unggulan di sekitarnya. Membangun sarana dan prasarana industri dan perdagangan serta sistem informasi teknologi yang mendukung aktivitas industri dan pemasaran.

Lokasi: Kecamatan Towuti (Desa Asuli 4.563 jiwa, Desa Wawondula 4.473 jiwa, Desa Lioka 2.135 jiwa, Desa Baruga 2.281 jiwa, Desa Langkearaya 3.590 jiwa).

5. Kawasan Peternakan dan Penunjang

Mempercepat peningkatan produktivitas wilayah dan ekonomi masyarakat pada sentra-sentra produksi peternakan yang didukung oleh sarana dan prasarana fisik. PKPM memfasilitasi upaya penyediaan alternatif mata pencaharian, lapangan pekerjaan, pengembangan unit ekonomi produktif berbasis peternakan dan unit usaha penunjangnya.

Lokasi: Kecamatan Towuti (Desa Pekaloa 1.550 jiwa, Desa Matompi 1.468 jiwa, Desa Timampu 3.590 jiwa).

6. Kawasan Agrowisata

Meningkatkan daya tarik bagi wisatawan dalam mempelajari dan menikmati kawasan agrowisata yang menekankan karakteristik lokal. PKPM mendukung upaya meningkatkan nilai tambah bidang pertanian, perkebunan, dan peternakan sebagai obyek wisata yang akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Lokasi: Kecamatan Wasuponda (Desa Wasuponda 3.250 jiwa, Desa Ledu-Ledu 5.871 jiwa, Desa Balambano 2.479 jiwa, Desa Tabarano 3.641 jiwa)

7. Kawasan Peternakan dan Pengolahan Hasil Hutan Non-kayu

Mempercepat peningkatan produktivitas wilayah dan ekonomi berdasarkan potensi komoditas unggulan pada sektor peternakan dan komoditas non-kayu yang saling berkontribusi. Hal ini biasa disebut wanaternak (silvopasture), yaitu kombinasi antara kegiatan kehutanan dan peternakan dalam suatu kawasan hutan atau luasan lahan.

Lokasi: Kecamatan Wasuponda-Nuha (Desa Kawata 2.037 jiwa, Desa Parumpanai 3.955 jiwa, Desa Matano 595 jiwa).

8. Kawasan Pesisir dan Industri Olahan Hasil Laut (Minapolitan)

Kawasan minapolitan merupakan sentra produksi, pengolahan, pemasaran komoditas perikanan dan kelautan, pelayanan jasa, dan kegiatan pendukung lainnya secara terpadu dan holistik. Meningkatkan pengembangan kawasan minapolitan sebagai alternatif model/strategi pembangunan perdesaan yang mengoptimalkan potensi perikanan dan kelautan secara terpadu dari hulu ke hilir.

Lokasi: Kecamatan Malili (Desa Harapan 2.205 jiwa, Desa Pasi Pasi 1.295 jiwa, Desa Wewangriu 3.004 jiwa, Desa Balantang 2.193 jiwa)

9. Kawasan Perkotaan dan Layanan Jasa

Meningkatkan layanan jasa kepada masyarakat perkotaan yang berkontribusi meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat. PKPM memfasilitasi pengembangan konsep layanan jasa dan perkotaan sebagai alternatif mata pencaharian, lapangan pekerjaan baru yang dapat berkontribusi meningkatkan pendapatan masyarakat perkotaan berdasarkan kondisi dan karakteristik masyarakat.

Lokasi: Kecamatan Malili (Desa Baruga 3.379 jiwa, Desa Puncak Indah 5.902 jiwa, Kelurahan Malili 4.304 jiwa).

10. Supporting Regions

Diprediksi menjadi penunjang kawasan Malili sebagai ibukota Kabupaten Luwu Timur. Lokasinya di tengah-tengah tiga kawasan lain, yakni kawasan pesisir, pengolahan hasil laut, dan layanan jasa perkotaan.

Lokasi: Kecamatan Malili (Desa Laskap 1.921 jiwa, Desa Pongkeru 1.914 jiwa)