Menata Ruang dan Mengembangkan Usaha Kecil Melalui Pembangunan Sentra Kuliner

Tentang Vale

30/01/2017

Menata Ruang dan Mengembangkan Usaha Kecil Melalui Pembangunan Sentra Kuliner

Melalui pembangunan sentra kuliner, PMDM menggerakkan ekonomi dan berkontribusi terhadap tata ruang wilayah.

Pujasera Wasuponda
Kehadiran Pujasera Wasuponda membuat suasana lokasi ini menjadi hidup dan roda ekonomi masyarakat sekitar berputar dibandingkan kondisi awal lokasi yang berupa tanah kosong tanpa peruntukan.

Salah satu faktor pendorong perkembangan wilayah adalah aktivitas ekonomi. Ketika roda ekonomi berputar, masyarakat lebih berdaya dan sejahtera. Membangun infrastruktur ekonomi menjadi stimulan penting untuk memicu geliat perekonomian desa.

Di banyak tempat, pemerintah daerah membangun pasar modern ataupun taman kota yang memberi kesempatan bagi komunitas masyarakat untuk berinteraksi. Ruang-ruang publik itu membuka jalur perekonomian. Pedagang dan pembeli berdatangan karena tempatnya nyaman dan menarik. Selain fungsi ekonomi, penataan ruang publik juga memberi dampak positif bagi tata ruang wilayah. Desa menjadi bersih, rapi, dan indah.

Di Kecamatan Wasuponda, Towuti, dan Nuha, pusat jajan serba ada (Pujasera), yang dirancang dan dibangun sepanjang fase pertama dan kedua Program Mitra Desa Mandiri (PMDM), dimaksudkan untuk mewujudkan kedua fungsi tersebut.

Di Kecamatan Wasuponda, Pujasera PMDM berdiri persis di pinggir jalan poros Malili-Sorowako, tepat di sebelah Tugu Nanas. Sejak beroperasi Januari 2014, Pujasera diisi 10 pedagang yang sebelumnya berjualan dengan cara berkeliling kampung. Proyek ini menelan anggaran PMDM Kecamatan sebesar Rp139,5 juta pada fase pertama dan Rp90 juta pada fase kedua PMDM. Pada fase kedua itu dilakukan pemasangan paving blok, penataan taman, dan membangun satu kios lagi.

Yang menarik, pembangunan pujasera ini dilakukan dengan swadaya masyarakat. Misalnya, Karang Taruna Desa Balambano membantu membuat meja dan gerobak makanan. Para pemilik kios juga berswadaya dengan membeli dan memasang terpal sebagai atap.

Para pemilik kios juga rutin membersihkan Pujasera secara gotong-royong. Kini, setelah beroperasi 2,5 tahun, Pujasera ini tetap menjadi pilihan warga Wasuponda dan sekitarnya yang ingin nongkrong dan menyantap makanan.

“Kalau malam, tempat ini ramai sekali,” ujar Adolfina Sambo, Fasilitator PMDM Kecamatan Wasuponda. Sejak berjualan di Pujasera, pendapatan pedagang makanan meningkat 100-200% dari sebelumnya, saat masih berjualan memakai gerobak keliling.”

Adolfina menambahkan, “Kalau dulu hanya Rp100-200 ribu per hari, sekarang bisa Rp300-400 ribu per hari.” tambah Adolfina. Hal itu dibenarkan Eka Karlina, pedagang ayam goreng dan rawon. “Sehari bisa laris puluhan porsi, enggak seperti dulu,” ujar dia.

Di Kecamatan Towuti, pembangunan 22 kios Pujasera di area Lapangan Sirio-Rio mendapat pendanaan dari PMDM Kecamatan sebesar Rp157.500.000. Bangunan Pujasera telah berdiri, namun hingga kini belum dimanfaatkan. Belum ada daftar penerima manfaat, aturan main yang disepakati, dan tim pengelola Pujasera Towuti.

Hal itu tampak kontras dengan Pujasera Simpang Tiga di Kelurahan Magani, Kecamatan Nuha. Pujasera yang diresmikan pada April 2016 itu dibangun dengan dana sebesar Rp108 juta dari PMDM Kelurahan Magani dan Rp117 juta dari dana PMDM Kecamatan Nuha.

Ada juga pihak lain yang membantu dalam bentuk material bangunan. Para penjual sendiri berswadaya untuk membangun teras, lantai, dan mempercantik kios mereka. Sebanyak 19 pedagang kuliner menjajakan dagangannya dari pagi hingga malam hari. Bahkan tempat ini pernah digunakan sebagai lokasi pasar Ramadan.

Penerima manfaat Pujasera ditetapkan sejak awal, yaitu pedagang yang semula berjualan di area terminal dan sisanya untuk kios PKK dan warga miskin yang ingin berjualan. Aturan mainnya jelas. Pedagang bekerja sama membersihkan Pujasera, bukan kios pribadinya saja, karena taman jajan ini berkonsep ruang terbuka. Pengelolaan juga sudah disepakati. Iuran kebersihan dan keamanan Rp5.000, dipungut setiap hari. Untuk perawatan bangunan, tiap pedagang membayar Rp30.000 per bulan kepada tim pengelola.

Jika sejak awal 1990-an warga Sorowako jajan di kios berupa tenda-tenda non-permanen dengan lingkungan kurang bersih, kini mereka punya tempat bersantap yang bersih dan nyaman. Pedagang juga mengungkapkan sukacita, karena pengunjung bertambah ramai. Kelurahan Magani dan Kecamatan Nuha kini punya etalase yang siap menyambut pengunjung dengan aneka kuliner khas dan ruang publik yang nyaman.[]



> Artikel ini dapat juga diakses pada Tabloid Verbeek edisi 28 pada link berikut.

Baca juga


Menata Ruang dan Mengembangkan Usaha Kecil Melalui Pembangunan Sentra Kuliner