Mendorong Pertanian Lada Ramah Lingkungan

Tentang Vale

28/04/2016

Mendorong Pertanian Lada Ramah Lingkungan

PTPM mengadakan Sekolah Lapang guna mencetak petani kader pendorong praktik pertanian berkelanjutan.

Suasana Sekolah Lapang di Kecamatan Wasuponda
Suasana Sekolah Lapang di Kecamatan Wasuponda. Fasilitator dan peserta turun langsung ke kebun untuk membahas teknik budidaya lada ramah lingkungan.

Mari renungkan ini: Riset membuktikan, kesuksesan seseorang di masa depan banyak ditentukan oleh delapan tahun pertama usianya. Sukses yang dimaksud tentu bukan kecukupan materi atau pangkat semata, melainkan tingkat kecerdasan, kemampuan menjalin relasi positif dengan orang lain, memiliki kepekaan sosial, dan perilaku terpuji dalam keseharian.

Selain PMDM, PT Vale menjalankan PTPM dalam kerangka Kemitraan Strategis. Salah satunya diwujudkan melalui Program Pertanian Berkelanjutan yang telah berjalan sejak Maret 2015. Selain padi dan kakao, komoditas yang mendapat perhatian dalam program ini adalah lada.

Komoditas itu dihadapkan pada ketersediaan lahan, karena banyak di antaranya masuk dalam kawasan hutan lindung. Pengembangan area perkebunan lada yang dilakukan secara masif dengan pola lahan berpindah berpotensi mengancam kawasan hutan.

PTPM Program Pertanian Berkelanjutan mendorong budidaya lada ramah lingkungan yang mengoptimalkan produktivitas tanpa ekstensifikasi lahan. Setelah mengadakan training of trainers (TOT) teknis budidaya tanaman lada ramah lingkungan bagi penyuluh pertanian lapangan dan petani kader pada Juni lalu, Program Pertanian Berkelanjutan menggelar Sekolah Lapang (SL) bagi para petani lada pada awal Oktober 2015 di Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Model Kecamatan Nuha.

“Sekolah Lapang ini kami adakan untuk mencetak petani-petani kader yang bisa membagi ilmu kepada sesama petani. Tanaman lada sangat mungkin dibudidayakan dengan prinsip ramah lingkungan, sehingga petani tidak lagi merambah hutan tapi justru memanfaatkan ekosistem hutan sebagai pendukung sektor perkebunan,” kata Koordinator Senior PTPM-Bidang Ekonomi La Ode M. Ichman.

Dengan menerapkan prinsip pertanian ramah lingkungan yang fokus pada peningkatan produktivitas, bukan mustahil hasil panen lada dari lahan satu hektar bisa setara dengan hasil panen pada lahan seluas tiga hektar. “Petani bisa memanfaatkan pekarangan rumah untuk dijadikan kebun lada. Hasilnya bisa sama dengan berkebun lada di lahan yang luas,” lanjut Ichman.

Mengamati dan praktik

Petani dari Kelompok Tani Lada Berkarya dan Kelompok Tani Kali Dingin, Kecamatan Wasuponda, mengikuti SL selama tiga hari. Di hari pertama, mereka mempelajari dasar-dasar budidaya lada ramah lingkungan, seperti pembuatan terasiring, polikultur, tumpang sari, penggunaan tanaman penutup tanah, dan pemakaian tajar hidup sebagai media tumbuh tanaman lada.

Di hari kedua, para petani melakukan observasi lapangan. Mereka mengamati kondisi iklim dan lahan, kondisi tanaman, hama dan penyakit, kondisi hara dan fisiologi tanaman, pengamatan sulur untuk bibit, dan pengamatan perbanyakan tanaman.

Petani yang dibagi ke dalam dua kelompok mencatat hasil pengamatan dengan rapi. Mereka berdiskusi di tengah kebun, mencari berbagai permasalahan, sekaligus merumuskan solusi. Tak lupa, mengambil contoh tanah, contoh tanaman yang terserang hama dan penyakit, serta mencari gulma dan hama. Di kelas, mereka menuliskan hasil pengamatan untuk dipresentasikan kepada peserta lain.

Di hari terakhir, petani melakukan kegiatan praktik pengolahan lahan, penanaman bibit, pemupukan, dan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) secara mekanik dan kuratif, kimia, secara kultur teknis, pengendalian lingkungan tumbuh, serta praktik penggemburan dan pembersihan area tanaman.

“Sekolah Lapang memang intinya observasi, praktik, dan diskusi. Tujuannya adalah membangun wahana komunikasi, pembelajaran, dan rembuk tani yang mengarah ke perbaikan teknik budidaya dan mendorong peningkatan produktivitas,” kata Surapati M. Senin, instruktur Sekolah Lapang Lada dari konsultan pengembangan masyarakat A+ CSR Indonesia.

Motivasi dan target

Anthon, Ketua Kelompok Tani Lada Berkarya, mendapatkan wawasan dan motivasi dari SL yang baru pertama kali dia ikuti. “Setelah ikut SL ini, saya mau maksimalkan pohon gamal yang ada di kebun untuk saya jadikan tiang hidup. Terutama untuk musim kemarau seperti sekarang, tiang hidup lebih bagus karena bisa melindungi tanaman dari matahari,” kata Anthon yang saat ini masih berkebun lada menggunakan kayu nangka sebagai tajar mati.

Anthon semakin yakin menggunakan tajar hidup sebagai tiang lada setelah mendengar keberhasilan rekannya yang sukses memanen 11 karung besar lada kering dari hanya 80 tiang lada.

Selain menguntungkan di musim kemarau, tajar hidup juga memangkas biaya pembelian sebesar Rp40.000 per tiang. “Dan yang lebih penting, kita tidak ditangkap polisi gara-gara ambil kayu dari hutan. Repot urusannya kalau dipenjara. Hutan juga tidak rusak kalau kita pakai tiang hidup,” lanjut Anthon yang mengikuti SL bersama lima anggota Kelompok Tani Lada Berkarya.

Sekolah Lapang juga diikuti calon petani lada. Asella Dadur dari Kelompok Tani Kali Dingin berencana menanam lada. Meskipun belum tahu berapa pohon lada yang akan ditanam, pada Oktober 2018, atau tiga tahun dari pelaksanaan SL, dia ingin menikmati panen yang memuaskan. Berbekal ilmu seputar teknik budidaya lada ramah lingkungan dari Sekolah Lapang dan pengalamannya bertani buah naga, harapan Asella rasanya tidak mustahil.[]

Something went wrong. Please try again later or contact us to report the error.

​​​​​​

Mendorong Pertanian Lada Ramah Lingkungan