Menyempurnakan Penerapan SRI Organik

Tentang Vale

28/04/2016

Menyempurnakan Penerapan SRI Organik

BP4K Luwu Timur mengeluarkan rekomendasi untuk mendukung keberlanjutan penerapan teknologi SRI Organik.

Lokakarya hasil penerapan SRI Organik di Kecamatan Malili pada Oktober 2015
Lokakarya hasil penerapan SRI Organik di Kecamatan Malili yang digelar pada Oktober 2015 menghasilkan sejumlah rekomendasi, mulai dari kelembagaan tani, penanganan pasca-panen, hingga sertifikasi. SRI Organik menjadi bagian penting dalam PTPM Program Pertanian Berkelanjutan yang merupakan kemitraan antara PT Vale dan Pemerintah Daerah.

Penerapan System of Rice Intensification (SRI) Organik sebagai bagian dari PTPM Program Pertanian Berlanjutan telah berjalan lebih dari satu tahun. Dimulai dengan pembelajaran dasar ekologi dan prinsip sistem intensifikasi padi SRI Organik bagi para petani di Kecamatan Towuti dan Wasuponda di awal 2015. Selain petani, tenaga PPL se-Kabupaten Luwu Timur juga mendapatkan pelatihan serupa pada Juni 2015.

Petani menerapkan pola tanam SRI Organik di persawahan masing-masing, dan Desa Libukang Mandiri di Towuti dan Desa Ledu-ledu di Wasuponda sebagai area percontohan. Mereka melakukan penyiapan lahan, tanam perdana, pengolahan, bahkan beberapa petani kini sudah menikmati panennya. Beras organik sebagian dijual di Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Model-Kecamatan Nuha dan beberapa toko kelontong dengan harga Rp15.000 per kilogram.

Setelah melewati berbagai tahapan, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur melalui Badan Pelaksana Penyuluh, Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K) menggelar kegiatan lokakarya hasil pembelajaran ekologi tanah dan penerapan SRI Organik. Lokakarya diikuti oleh PPL dan petani kader pada pertengahan Oktober 2015, dan dihadiri perwakilan PT Vale serta fasilitator dari SRI Organik dari Yayasan Aliksa Organik SRI.  Lokakarya digelar untuk mendapat gambaran hasil dan kendala yang dihadapi pada penerapan teknologi SRI musim tanam April-September 2015.

Rekomendasi

Manisnya hasil panen padi organik sudah dirasakan oleh petani di Desa Ledu-ledu. Produktivitas lahan padi organik sebesar 5,1 ton per hektar, sedangkan tanaman padi konvensional hanya mencapai 3,6 ton per hektar. Dengan metode SRI Organik, penanaman satu benih menghasilkan 27 hingga 36 anakan, sementara metode konvensional memerlukan 8 benih untuk menghasilkan 20 anakan. Pengamatan akar juga menunjukkan perbedaan. Akar padi organik lebih panjang, tebal, dan kokoh.

Kepala BP4K Nursih Hariani menyatakan, pemerintah daerah sangat mendukung dan merekomendasikan penerapan teknologi SRI Organik. “Metode ini menjawab masalah utama yang dihadapi petani, yakni krisis air, tanah yang tidak subur, kelangkaan pupuk, dan kondisi lingkungan yang saat ini mengalami degradasi fungsi tanah. Dengan pola SRI, dihasilkan konsumsi pangan yang sehat,” kata Nursih.

Lokakarya SRI Organik menghasilkan delapan rekomendasi. Rekomendasi tersebut dibuat untuk mendukung keberlanjutan penerapan metode SRI Organik agar menjadi lebih sempurna dan menjangkau lebih luas petani di Kabupaten Luwu Timur.[]​

​​​

Menyempurnakan Penerapan SRI Organik